Selasa, 04 September 2012

seni budaya kerajinan


pemandangan.jpgTugas Seni Budaya
http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:1cIK58PlXbZAdM:http://thebatiksolo.files.wordpress.com/2009/03/batik-solo-a.jpgMacam – macam Kerajinan

Guru Pembimbing : Ibu Saulina S,pd
Kelompok 5  : I Krisna Suryanti
I Afip Herliansa
IRosi Octavia
IIlham Pratama
Kelas     : XI IPA 3

jaha.jpg
A.              Kerajinan Batik

1.     Batik dan Sejarahnya


http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:1cIK58PlXbZAdM:http://thebatiksolo.files.wordpress.com/2009/03/batik-solo-a.jpg

Batik (atau kata Batik) berasal dari bahasa Jawa “amba” yang berarti menulis dan “nitik”. Kata batik sendiri meruju pada teknik pembuatan corak Motif Batik – menggunakan canting atau cap – dan pencelupan kain dengan menggunakan bahan perintang warna Motif Batik pada Baju Batik “malam” (wax) yang diaplikasikan di atas kain, sehingga menahan masuknya bahan pewarna. Dalam bahasa Inggris teknik ini dikenal dengan istilah wax-resist dyeing.
Jadi kain Batik adalah kain yang memiliki ragam hias atau corak yang dibuat dengan canting dan cap dengan menggunakan malam sebagai bahan perintang warna. Teknik ini hanya bisa diterapkan di atas bahan yang terbuat dari serat alami seperti katun, sutra, wol dan tidak bisa diterapkan di atas kain dengan serat buatan (polyester). Kain yang pembuatan corak Batik dan pewarnaannya tidak menggunakan teknik ini dikenal dengan kain bercorak batik – biasanya dibuat dalam skala industri dengan teknik cetak (print) – bukan kain batik. Seni kerajinan batik adalah seni membuat pola hias diatas kain dengan proses teknik tulis (casting) atau teknik cetak (printing).
http://1.bp.blogspot.com/-t_BOW93PuWg/T8D5f8nIoVI/AAAAAAAADLs/2sdvxGlT6c8/s400/batik.jpg
Batik secara historis berasal dari zaman nenek moyang yang dikenal sejak abad XVII yang ditulis dan dilukis pada daun lontar. Saat itu motif atau pola batik masih didominasi dengan bentuk binatang dan tanaman.
 Namun dalam sejarah perkembangannya batik mengalami perkembangan, yaitu dari corak-corak lukisan binatang dan tanaman lambat laun beralih pada motif abstrak yang menyerupai awan, relief candi, wayang beber dan sebagainya. Selanjutnya melalui penggabungan corak lukisan dengan seni dekorasi pakaian, muncul seni batik tulis seperti yang kita kenal sekarang ini.
Jenis dan corak batik tradisional tergolong amat banyak, namun corak dan variasinya sesuai dengan filosofi dan budaya masing-masing daerah yang amat beragam. Khasanah budaya Bangsa Indonesia yang demikian kaya telah mendorong lahirnya berbagai corak dan jenis batik tradisioanal dengan ciri kekhususannya sendiri.
2.    Perkembangan Batik di Indonesia
Sejarah pembatikan di Indonesia berkaitan dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan kerajaan sesudahnya. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram, kemudian pada masa kerajaan Solo dan Yogyakarta.
Kesenian batik merupakan kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluarga raja-raja Indonesia zaman dulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena banyak dari pengikut raja yang tinggal diluar kraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar kraton dan dikerjakan ditempatnya masing-masing.
Perempuan-perempuan Jawa di masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik Busana Batik dan Blus batik sebagai mata pencaharian, sehingga di masa lalu pekerjaan membatik Batik Solo adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya “Batik Cap” yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini. Ada beberapa pengecualian bagi fenomena ini, yaitu batik pesisir yang memiliki garis maskulin seperti yang bisa dilihat pada corak “Mega Mendung”, dimana di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki.
Ragam corak dan warna Desain Busana Batik dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing. Awalnya, batik memiliki ragam corak dan warna yang terbatas, dan beberapa corak Busana Batik dan Blus batik hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu. Namun batik pesisir menyerap berbagai pengaruh luar, seperti para pedagang asing dan juga pada akhirnya, para penjajah. Warna-warna cerah seperti merah dipopulerkan oleh orang Tionghoa, yang juga mempopulerkan corak phoenix.
Bangsa penjajah Eropa juga mengambil minat kepada batik, dan hasilnya adalah corak bebungaan yang sebelumnya tidak dikenal (seperti bunga tulip) dan juga benda-benda yang dibawa oleh penjajah (gedung atau kereta kuda), termasuk juga warna-warna kesukaan mereka seperti warna biru. Batik tradisonal tetap mempertahankan coraknya, dan masih dipakai dalam upacara-upacara adat, karena biasanya masing-masing corak memiliki perlambangan masing-masing.
Teknik Desain Busana Batik dan membatik telah dikenal sejak ribuan tahun yang silam. Tidak ada keterangan sejarah yang cukup jelas tentang asal usul Batik. Ada yang menduga teknik ini berasal dari bangsa Sumeria, kemudian dikembangkan di Jawa setelah dibawa oleh para pedagang India. Saat ini batik bisa ditemukan di banyak negara seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, India, Sri Lanka, dan Iran. Selain di Asia, batik juga sangat populer di beberapa negara di benua Afrika. Walaupun demikian, batik yang sangat terkenal di dunia adalah batik yang berasal dari Indonesia, terutama dari Jawa.

3.      Proses pembuatan batik
Dalam perkembangannya lambat laun kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu senggang. Selanjutnya, batik yang tadinya hanya pakaian keluarga istana, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria.
Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri. Sedang bahan-bahan pewarna yang dipakai terdiri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri antara lain dari : pohon mengkudu, tinggi, soga, nila, dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanah lumpur.
Jadi kerajinan batik ini di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerajaan Majapahit dan terus berkembang hingga kerajaan berikutnya. Adapun mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad ke-XVIII atau awal abad ke-XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad ke-XX dan batik cap dikenal baru setelah usai perang dunia kesatu atau sekitar tahun 1920. Kini batik sudah menjadi bagian pakaian tradisional Indonesia.
Alat dan bahan yang digunakan untuk membatik biasanya adalah :
1.         Kain polos, sebagai bahan yang akan diberi motif gambar. Bahn kain umumnya berupa kain mori, primissima, prima, blaco, dan baju kaos.
2.        Malam, sebagai bahan untuk membuat motif sekaligus sebagai perintang masuknya warna ke serat kain (benang).
3.        Bahan pewarna, untuk mewarnai kain, yaitu naptol dan garam diasol.
4.        Canting dan kuas, untuk menorehkan lilin pada kain.
5.        Kuas untuk Nemboki, yaitu menutup malam pada permukaan kain yang lebar.

Teknik membatik.

a)      Batik celup ikat, adalah pembuatan bati tanpa menggunakan malam sebagai bahan penghalang, akan tetapi menggunakan tali untuk menghalangi masuknya warna kealam serat kain. Membatik dengan proses seperti ini disebut dengan jumputan.
b)      Batik tulis, batik yang dibuat melalui cara memberikan malam dengan menggunakan canting pada motif yang telah digambar pada kain.
c)      Batik cap, adalah batik yang menggunakan alat cap (stempel yang umumnya terbuat dari tembaga) sebagai alat untuk membuat motif, sehingga kain tidak perlu digambar terlebih dahulu.
d)      Batik Lukis, adalha batik yang dibuat dengan cara melukis, dan bebas menggunakan alat atau efek – efek tertentu.
e)      Batik modern , adalah batik yang cara pembuatnnnya bebas, tidak terikat oleh aturan teknik yang ada.
f)        Batik printing, adalah kain yang motifnya seperti batik. Proses pembuatan batik ini tidak menggunakan teknik batik, tetapi dengan teknik sablon. Biasanya dipakai dalam kain seragam sekolah.

Batik Daerah
Perkembangan yang signifikan diperkirakan terjadi setelah perang besar pada tahun 1825-1830 di kerajaan Mataram yang sering disebut dengan perang Diponegoro atau perang Jawa. Dengan terjadinya peperangan ini mendesak keluarga kraton serta para pengikutnya banyak yang meninggalkan daerah kerajaan. Mereka kemudian tersebar ke arah Timur dan Barat. Kemudian di daerah – daerah baru itu para keluarga dan pengikutnya mengembangkan batik.

1.    BATIK DI YOGYAKARTA

             Dari beberapa wilayah ini batik menyebar ke seluruh Indonesia bahkan dunia dengan ciri khasnya masing-masing.
          Hal yang patut dicatat adalah bahwa dari pusat-pusat kerajinan batik itu dalam sejarahnya juga telah melahirkan corak-corak batik klasik. Corak-corak batik klasik ini dalam sejarahnya tidak lepas dari peran pusat-pusat pemerintahan (keraton) pada zaman dulu. Oleh karenanya banyak pusat-pusat batik/perkampungan batik yang letaknya tidak berjauhan dengan pusat pemerintahan/keraton sekalipun pada perkembangannya statemen ini tidak selalu berlaku. Perkampungan batik ini khususnya di Yogyakarta setidaknya dapat dilihat di Kampung Tamansari, Ngasem, Sosrowijayan, Tirtodipuran, Girilaya, dan Prawirataman.
Berikut ini kampung-kampung pengrajin batik di wilayah Yogyakarta :
http://tembi.org/yogjamu-prev/images/ibatik01.jpghttp://tembi.org/yogjamu-prev/images/ibatik02.jpghttp://tembi.org/yogjamu-prev/images/ibatik03.jpghttp://tembi.org/yogjamu-prev/images/ibatik04.jpghttp://tembi.org/yogjamu-prev/images/ibatik05.jpghttp://tembi.org/yogjamu-prev/images/ibatik06.jpg
http://tembi.org/yogjamu-prev/images/ibatik07.jpghttp://tembi.org/yogjamu-prev/images/ibatik08.jpghttp://tembi.org/yogjamu-prev/images/ibatik09.jpghttp://tembi.org/yogjamu-prev/images/ibatik10.jpghttp://tembi.org/yogjamu-prev/images/ibatik11.jpghttp://tembi.org/yogjamu-prev/images/ibatik12.jpg


              Batik merupakan kerajinan khas Yogyakarta dan merupakan cenderamata yang banyak dicari wisatawan. Pada abad ke-15 seni batik telah mulai maju dan berkembang. Ketika itu seni batik mendapat pengaruh dari Agama Budha, Hindu, dan Islam terhadap corak batik yang ada. Pada Jaman ini batik hanya dibuat di dalam lingkungan Kraton dan digemari oleh puteri Kraton.

             Di Indonesia sendiri, motif batik juga bervariasi, diantaranya adalah batik Jogja dan batik Solo. Walau keduanya menggunakan ukel dan semen-semen, namun sebenarnya kedua batik ini berbeda. Perbedaannya terletak pada warnanya. Batik Jogja berwarna putih dengan corak hitam, sedangkan batik Solo (transang) berwarna kuning dengan corak tanpa putih.

              Penggunaan kain batik ini pun berbeda-beda. Di Kraton Jogja, terdapat aturan yang pakem mengenai penggunaan kain batik ini. Untuk acara perkawinan, kain batik yang digunakan haruslah bermotif Sidomukti, Sidoluhur, Sidoasih, Taruntum, ataupun Grompol. Sedangkan untuk acara mitoni, kain batik yang boleh dikenakan adalah kain batik bermotif Picis Ceplok Garudo, Parang Mangkoro, atau Gringsing Mangkoro. Beberapa contoh motif batik klasik Yogyakarta antara lain: Parang, Geometri, Banji, Tumbuhan Menjalar, Motif tumbuhan Air, Bunga, Satwa dalam kehidupan dan lain-lain. Penggunaan Batik dewasa ini bukan hanya sebagai kain tetapi juga sebagai Pakaian jadi, Bed Cover, Sarung Bantal dan lain-lain.

               Saat ini batik telah menjadi tren baru di tengah masyarakat. Tak hanya sandang yang menggunakan kain batik sebagai bahannya. Sarung bantal, gordyn, dan seprei pun telah ada yang menggunakan kain batik. Ini adalah awal mula yang baik bagi pelestarian seni batik. Awalnya harus mencintai dahulu, kemudian muncul rasa andarbeni (memiliki) dan akhirnya nguri-uri (melestarikan).

                Kesadaran ini sudah mulai dan terus digalakkan. Batik Tamanan Kraton pun dibentuk untuk khusus membatik motif Kraton Jogja. Batik di Daerah Istimewa Yogyakarta saat ini berkembang dengan pesat. Tidak kurang dari 400 motif batik khas Yogyakarta yang terdiri dari motif batik klasik maupun motif batik modern berada di Yogyakarta sehingga Yogya dikenal dengan sebutan Kota Batik.
               Industri Batik terdapat di seluruh Wilayah DIY. Di kota Yogyakarta, industri batik banyak berada di Tirtodipuran, Panembahan, dan Prawirotaman.
             potensi batik jogja 300x181 Batik Kayu Warisan Budaya Yogyakarta
Seperti halnya kerajinan batik, yang sekarang ini dikembangkan bukan hanya pada media kain, melainkan pada media kayu. Batik kayu merupakan warisan budaya Yogyakarta Pelopor pengrajin Batik Kayu di Dusun Krebet adalaha Sanggar Peni yang didirikan oleh bapak Kemiskidi pada tahun 1988 yang dibantu oleh teman-teman dan juga kerabatnya.
Membatik diatas kayu sudah menjadi kepiawaian masyarakat Yogyakarta tepatnya di Dusun krebet. Batik kayu yang mereka hasilkan juga sangat beragam, mulai dari topeng, miniature binatang, miniature furniture dan pernak-pernik hiasan lainya dengan dihiasi berbagai motif yang sangat cantik dan menarik. Proses pembuatanya juga hampir sama dengan membatik diatas kain, hanya saja medianya diganti menjadi kayu.
Jenis kayu yang digunakan juga sangat beragam dengan hasil yang berbeda juga. Biasanya kayu yang sering digunakan sebagai bahan dasar adalah kayu lunak seperti sengon, pule dan mahoni, karena hasil yang didapatkan lebih bagus dan warnanya lebih indah daripada memakai bahan dasar kayu yang keras seperti kayu jati. Kayu yang mereka gunakan juga hasil dari hutan atau kebun dari daerah mereka sendiri, sehingga biaya produksi yang mereka keluarkan juga bisa mereka pangkas untuk keperluan lainya.
Cara pembuatan Batik Kayu juga masih menggunakan metode tradisional dengan alat-alat tradisional juga, sehingga hasil yang didapatkan sangat naturalis dan sangat khas. Alat modern yang mereka gunakan hanya alat pemotong kayu dan alat penghalus kayu. Desain dibuat sendiri oleh pengerajin dan terdapat ratusan desain. Desain utama dari batik media kayu ini adalah : Jlereng dan Kawang, serta desain Kembang, yang motifnya divariasi atau di gabung-gabungkan. Motif khas Yogyakarta ialah Jlereng dan Kawang, namun motif lainnya juga muncul dari kreasi pengrajin sendiri maupun motif yang disesuaikan dengan permintaan pasar.
Setelah proses desain pada bahan baku kayu dengan menggunakan pensil kemudian menuju ke proses pembatikan  menggunakan bahan baku malam. Dalam penggunannya malam tersebut harus dalam keadaan cair. Caranya dengan cara memanaskannya dalam wajan kecil atau biasa di sebut canting di atas kompor kecil . Untuk proses pewarnaan batik kayu ini , bahan yang digunakan adalah zat warna Naptol dan zat warna indogosol .
Pada saat proses pewarnaan dengan mengunakan zat naptol tidak boleh terkena sinar matahari secara langsung karena warna menjadi pudar , sebaliknya zat warna indogosol membutuhkan sinar matahari untuk menimbulkan warnanya , kemudian untuk menetapkan warnanya mengunakan larutan HCL dengan cara di celupkan , pemberian warna pada batik kayu ini tergantung pada beberapa kombinasi warna yang diinginkan.
Untuk proses selanjutnya dilakukan pengeringan dengan di jemur ditempat terbuka . kemudian dilanjutkan dalam proses pelorotan malam , yang mengunakan cairan HCL , soda kostik , TRO atau turkish red oil dan soda Abu untuk menguatkan warna . bati kayu tersebut di cuci mengunakan air tawar , sampai benar-benar bersih dari kotoran-kotoran dan larutan HCL , yang selanjutnya di jemur kering angin .
Finisihing pada kerajinan batik kayu , mengunakan bahan aqua laker . sedangkan untuk bahan yang fungsional seperti mangkok , piring atau sendok mengunakan bahan khusus yang aman untuk kesehatan. Hasil kerajinan batik kayu ini , untuk barang-barang yang memerlukan tambahan aksesoris , seperti figura atau patung-patung dilengkapi dengan aksesoris kaca atau cincin untuk mempercantik batik kayu tersebut.

2.    Batik Transang
Sejarah pembatikan di Indonesia berkait erat dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan penyebaran ajaran Islam di Tanah Jawa. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram.

Bisa dilihat bahwa pada zaman Belanda, motif-motif batik dipengaruhi nuansa Eropa. Batik di Indonesia memiliki keragaman jenis, pola, motif, dan corak sesuai dengan unsur-unsur daerah yang membentuknya, Salah satu contohnya batik Transang yang dikenal berwarna cokelat gelap.
Ada yang menarik di industri batik Transang. Di dua tempat yang terkenal menjadi sentra batik: Kauman dan Laweyan, terlihat bahwa industri ini wujud pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan. Pembatik wanita duduk menorehkan canting dengan penuh kesabaran. Sementara wanita sibuk melukis batik, para pria sibuk dengan proses lain, seperti membuat malam, mencelupkan kain, melorotkan malam dengan cara diberi air dan menginjak-injak agar malamnya hilang, dan memilin untuk memberi efek pecah-pecah, dan menjemur. Industri ini juga kental nuansa kekeluarganya. Umumnya usaha batik di Transang merupakan usaha turun termurun.
Dalam perkembangannya corak batik dapat kita lihat mempunyai 2 bentuk yang berbeda, yaitu golongan ragam hias geometris dan non geometris. Corak hias geometris adalah corak hias yang mengandung unsur-unsur garis dan bangun, seperti garis miring, bujur sangkar, persegi panjang, trapesium, belah ketupat, jajaran genjang, lingkaran, dan bintang, yang disusun secara berulang ulang membentuk satu kesatuan corak. Berbeda dengan ragam hias geometris, golongan ragam hias non geometris merupakan pola dengan susunan tidak terukur, artinya polanya tidak dapat diukur secara pasti, meskipun dalam bidang luas dapat terjadi pengulangan seluruh corak.
Untuk corak hias geometris sendiri masih dibagi lagi menjadi beberapa ragam diantaranya :
  • Corak Ceplok, Corak ceplok atau ceplokan adalah corak-corak batik yang didalamnya terdapat gambaran-gambaran bentuk lingkaran, roset, binatang, dan variasinya.
  • Corak Ganggong, Banyak orang menganggap corak ganggong adalah corak ceplok karena sepintas hampir sama. Namun kalau diperhatikan dengan detail, akan terlihat perbedaan antara corak ganggong dengan corak ceplok. Biasanya orang yang paham batik akan memerhatikan perbedaan ini, terutama bila batik akan digunakan untuk kepentingan tertentu. Ciri khas yang membedakan corak ganggong dengan ceplok adalah adanya bentuk isen yang terdiri atas seberkas garis yang panjangnya tidak sama, dan ujung garis yang paling panjang berbentuk serupa tanda +.
  • Corak Parang dan Lereng, Corak parang merupakan salah satu corak yang sangat terkenal dalam kelompok corak garis miring. Corak ini terdiri atas satu atau lebih ragam hias yang tersusun membentuk garis-garis sejajar dengan sudut kemiringan 45º. Contoh corak parang dan lereng adalah parang rusak dan lereng ukel.
  • Corak Banji, Corak banji berdasar pada ornamen swastika, dibentuk atau disusun dengan menghubungkan swastika pada garis-garis, sehingga membentuk sebuah corak. Swastika ini menggambarkan kekerasan yang diterima oleh masyarakat pada masa pendudukan Jepang di Indonesia.




Sedangkan untuk corak hias non geometris diantaranya :
  • http://3.bp.blogspot.com/-SKYDy7qegNY/Tq4giumM6II/AAAAAAAAAFA/Vyp9ZUnFGeo/s1600/batik-01.jpgCorak Semen, Ragam hias utama yang merupakan ciri corak semen adalah meru, suatu gubahan menyerupai gunung. Meru berasal dari nama Gunung Mahameru. Hakikat meru adalah lambang gunung atau tempat tumbuh-tumbuhan bertunas (bersemi) hingga corak ini disebut semen. Semen berasal dari kata dasar semi. Ragam hias utama semen adalah garuda, sawat, lar, maupun mirong.
  • Corak Lung-lungan, Sebagian besar corak lung-lungan mempunyai ragam hias serupa dengan corak semen. Berbeda dengan corak semen, ragam hias corak lung-lungan tidak selalu lengkap dan tidak mengandung ragarn hias meru.
  • Corak Buketan, Corak buketan mudah dikenali lewat rangkaian bunga atau kelopak bunga dengan kupu-kupu, burung, atau berbagai bentuk dan jenis satwa kecil yang mengelilinginya. Berbagai unsur tersebut tampil sebagai satu susunan yang membentuk satu kesatuan corak.
  • Corak Pinggiran, Corak ini disebut corak pinggiran karena unsur hiasannya terdiri atas ragam hias yang biasa digunakan untuk hiasan pinggir atau hiasan pembatas antara bidang yang memiliki hiasan dan bidang kosong pada dodot, kemben, dan udheg.

B.                    Kerajinan Anyaman

1.    Pengertian Anyaman
Anyaman merupakan seni yang mempengaruhi kehidupan dan kebudayaan masyarakat Melayu. Menganyam bermaksud proses menjaringkan atau menyilangkan bahan-bahan daripada tumbuh-tumbuhan untuk dijadikan satu rumpun yang kuat dan boleh digunakan. Bahan tumbuh-tumbuhan yang boleh dianyam ialah lidi, rotan, akar, bilah, pandan, mengkuang dan beberapa bahan tumbuhan lain yang dikeringkan.
Ia banyak digunakan sebagai alat keperluan rumah tangga sehari-hari. Biasanya seni ini diolah dengan alat yang masih sederhana seperti pisau pemotong, pisau penipis, tang dan catut bersungut bundar, yang membutuhkan kretivitas tinggi, ide, perasaan pemikiran dan kerajinan tangan.
Bahan ini biasanya mudah dikeringkan dan lembut. Menganyam adalah salah satu seni tradisi tertua di dunia. Konon kegiatan itu ditiru manusia dari cara burung menjalin rantin-ranting menjadi bentuk yang kuat. Kesenian ini juga ada di berbagai budaya Nusantara. Di rumah-rumah panggung di pesisir Aceh, tikar pandan menjadi alas lantai. Di Pedamaran, Sumatra Selatan, kegiatan menganyam tikar menjadi pemandangan sehari-hari yang dilakukan ibu dan para gadis remaja. Tak heran bila kota itu disebut sebagai kota tikar.

2.    Asal Usul Anyaman
Perkembangan Sejarah anyaman adalah sama dengan perkembangan seni tembikar. Jenis seni anyaman pada masa Neolitik kebanyakan adalah menghasilkan tali, rumah dan keperluan kehidupan. Bahan daripada akar dan rotan adalah bahan asas yang awal digunakan untuk menghasilkan anyaman. Menurut Siti Zainun dalam buku Reka bentuk karangan Melayu tradisi menyatakan pada zaman pemerintahan Long Yunus (1756-94) di negeri Kelantan, penggunaan anyaman digunakan oleh raja. Anyaman tersebut dipanggil ‘Tikar Raja’ yang diperbuat daripada pohon bemban.
            Seni anyaman di percaya bermula dan berkembangnya tanpa menerima pengaruh luar. Penggunaan tali, akar, dan rotan merupakan asas pertama dalam penciptaan kerajinan tangan anyaman. Bahan-bahan itu tumbuh liar di hutan-hutan, kampung-kampung, dan kawasan sekitar pantai.
Berbagai bentuk kerajinan tangan dapat di bentuk melalui proses dan teknik anyaman dari jenis tumbuhan pandan dan bengkuang. Bentuk-bentuk anyaman di buat berdasarkan fungsinya. Misalnya bagi masyarakat petani / nelayan, anyaman di bentuk menjadi topi, bakul, tudung saji, tikar, dan aneka rupa yang di bentuk untuk digunakan sehari-hari.

            Selain dari tumbuhan pandan dan bengkuang, anyaman juga dapat di buat dari tumbuhan jenis palma dan nipah. Berdasarkan bahan dan rupa bentuk anyaman yang di hasilkan. Seni anyaman merupakan daya cipta dari sekelompok masyarakat luar istana yang lebih mengutamakan nilai kegunaannya. Walaupun pada tahun 1756 sampai 1794 telah terdapat penggunaan tikar untuk raja yang terbuat dari rotan.

            Untuk memulai menganyam, waktu yang tepat adalah pada pagi atau malam hari dalam keadaan cuaca yang redup dan dingin. Daun-daun lebih lembut dan mudah di bentuk tanpa meninggalkan kesan-kesan pecah. Biasanya beberapa orang melakukan kegiatan menganyam secara berkelompok di halaman rumah atau beranda rumah pada waktu malam, petang, atau waktu senggang.
            Seni kerajinan tangan anyaman adalah sesuatu karya yang unik dan rumit proses pembuatannya. Namun usaha untuk mempertahankannya harus di teruskan agar tidak termakan oleh perkembangan zaman. Budaya bangsa bukan hanya di lihat dari bahasa dan ragamnya saja, tetapi juga di lihat dari hasil karyanya yang bermutu tinggi. Warisan budaya yang unik ini harus selalu di terus di pelihara dan di manfaatkan bersama.



Ada beberapa hal yang harus di ketahui tentang sejarah anyaman, yaitu :

1.         Dipercayai seni graf tangan muncul dan bergembang tanpa pengaruh luar.
2.         Pada zaman dahulu, kegiatan anyaman dilakukan oleh kaum wanita untuk mengisi  masa senggang dan bukan sebagai mata pencarian utama.

3.         Hasil graf tangan dijadikan alat untuk kegunaan sendiri atau sebagai hadiah untuk anak saudara atau sahabat handai sebagai tanda kasih atau kenang-kenagan.

4.         Seseorang wanita dianggap tidak mempunyai sifat kewanitaan yang lengkap jika dia tidak mahir dalam seni anyaman.

5.         Proses anyaman biasanya dijalankan oleh kaum wanita; lelaki hanya menolong menetap daun dan memprosesnya.

6.         Perusahaan anyaman biasanya dilakukan secara individu dan secara kecil-kecilan yang merupakan satu usaha ekonomi bagi orang-orang di kampung.

7.         Kini,terdapat organisasi dan perbadanan yang mengusahakannya, dengan skala yang besar seperti cawangan-cawangan Perbadanan Kemajuan Kraftangan Malaysia, Persatuan Gerakan Wanita Felda, Pusat Graftangan Felda, dan sebainya.

8.         Hasilan anyaman bermutu tinggi bagi memenuhi keperluan pelanggan.Hasilan anyaman tidah terkongkong dalam bentuk tradisional sahaja. Ciptan dimensi baru dari segi rupa dan bentuk, warna dan corak, teknik dan bahan sering diubah-ubahkan mengiikut peredaran zaman dan cita rasa pelanggan.
Memiliki 3 jenis anyaman , yaitu :
1.   Anyaman datar, dibuat datar pipih dan lebar. Jenis kerajinan ini banyak digunakan untuk tikar, dinding rumah tradisional, pembatas ruangan dan lainnya.
2.   Anyaman tiga dimensi, berwujud benda tiga dimensi sebuah produk kerajinan. Kerajinan ini telah berkembang bukan hanya berbentuk kerajinan tradisional tetapi telah berkembang jenis produknya dan lebih bernilai seperti sandal, kursi, tas lampu lampion, dan tempat wadah.
3.   Makrame seni simpul menyimpul bahan hanya dengan keahlian tangan dengan bantuan alat pengait yang fungsinya seperti jarum. Dalam seni makrame, simpul menyimpul bahan merupakan teknik utama untuk menciptakan sambungan dalam membentuk sebuah karya kerajinan. Beberapa hasil kerajinan yang menggunakan teknik makrame seperti taplak meja, mantel baju, kesetkaki, dan souvenir.

3.     Jenis-Jenis Anyaman

Jenis Anyaman Bahan Hasil anyaman
F Anyaman Mengkuang Daun mengkuang Tikar, tudung salji, bekas pakaian dan lain-lain
F Anyaman pandan Daun pandan duri Tikar sembahyang, hiasan dinding,
F Anyaman Buluh Jenis-jenis buluh yang sesuai Bakul, bekas pakaian, nyiru, beg dan lain-lain
F Anyaman Rotan Rotan yang telah diproses Bakul, bekas pakaian, tempat buaian anak dan lain-lain
F Anyaman Lidi Lidi kelapa Lekar, bekas buah, bekas telor.
F Anyaman ribu-ribu Paku pakis ribu-ribu. Tempat tembakau, bekas sirih terbus, bakul, bekas seba guna dan lain-lain.

Motif Anyaman
Berikut adalah contoh gambar motif anyaman :
1.       Anyaman 2 dimensi :
http://2.bp.blogspot.com/_5GJFl5DH54g/Sw2WX_OLeXI/AAAAAAAAABo/SxkqsNIkEeQ/s320/930283_mtf-3dlereng.jpghttp://4.bp.blogspot.com/_5GJFl5DH54g/Sw2WfsYOfzI/AAAAAAAAABw/D-fn8yu_8dY/s320/DSC04382.JPG


http://3.bp.blogspot.com/_5GJFl5DH54g/Sw2XKNkzxAI/AAAAAAAAAB4/Zd1EZ6ndzJM/s320/anyaman-bambu.jpg




2.       Anyaman 3 dimensi :
http://2.bp.blogspot.com/_5GJFl5DH54g/Sw2Xa2WrmoI/AAAAAAAAACI/nvPpuQ8dCxA/s320/1403600_sendalhotelpandanlurikcopy.jpghttp://2.bp.blogspot.com/_5GJFl5DH54g/Sw2XT8lLhaI/AAAAAAAAACA/gtvGfusQo6c/s320/tas_anyaman+%28250+x+333%29.jpg




1.Kerajinan Anyaman Pandan


Seuke (dalam bahasa Aceh) disebut juga dengan daun pandan adalah bahan baku yang sering digunakan dalam membuat kerajinan anyaman. Dahulu, anyaman pandan ini hanya digunakan untuk membuat tikar saja, namun kini berbagai macam barang dapat dihasilkan dari anyaman pandan ini antara lain, aneka tas, sandal, sarung bantal kursi dan lain sebagainya. Anyaman pandan ini banyak ditemui di Kabupaten Pidie, Kabupaten Pidie Jaya dan kabupaten Aceh Utara.
http://3.bp.blogspot.com/-RzTsNwK7m5M/T6k5DUHav6I/AAAAAAAAAIo/oU1UnHfTauY/s400/Pandan-1.jpg
Tanaman Pandan

A.              Proses Pembuatan

Proses Pembuatan Anyaman Pandan, bahan baku anyaman pandan adalah daun pandan yang panjangnya mencapai 2 (dau) meter. Daun pandan disayat atau dibelah-belah menurut alur memanjang setelah dibersihkan terlebih dahulu. Daun pandan ini diebus dalam air panas agar menjadi lunak, serta untuk mematikan hama, kemudian diangkat dan dikeringkan dengan menjemurnya pada panas matahari.
Setelah kering, diberi warna sesuai keinginan dengan mencelupkannya kedalam zat cairan zat pewarna yang telah dimasak dengan air panas,lalu diaduk hingga rata. Setelah warna merata, lalu diangkat dan dijemur lagi hingga kering. Setelah kering, maka pandan ini siap untuk dianyam. Bahan baku yang telah siap pakai ini dianyam sesuai denga kebutuhan, baik dengan motif yang diinginkan maupun dalam bentuk polos.
Pengadaan sarana produksi dan bahan baku usaha kerajinan pandan diupayakan sendiri oleh pengrajin. Bahan baku dan penunjang industri kerajinan pandan yang biasa digunakan oleh para pengrajin adalah: anyaman pandan, kain, benang jahit, kancing batok kelapa, lem, zat warna/pengkilap, pernis, resluiting, tambang dan karton.
Kebanyakan produk tas anyaman pandan dan produk setengah jadi diminati oleh konsumen dari Jepang dan Eropa. Produk-produk yang terbuat dari bahan dasar pandan, banyak diminati oleh konsumen mancanagara, berkaitan dengan sifat produk yang mudah didaur ulang (renewable). Sampah produk yang berbahan baku pandan tidak mengganggu fungsi lingkungan hidup.

Wanginya laba kerajinan anyaman berbahan daun pandan 

Berbagai Macam Motif Tikar Anyaman Pandan

http://2.bp.blogspot.com/-XYDTu-vXtzY/T6s7WXwhgZI/AAAAAAAAAI0/LkTUoVifzWM/s400/tikar1.jpg
Motif 1
http://4.bp.blogspot.com/-FKS-RhStEx0/T6s8LWabmvI/AAAAAAAAAI8/j05U-SPitt4/s400/tikar2.jpg

Motif 2

http://3.bp.blogspot.com/-ApxRwj19Lzc/T6s8josmLAI/AAAAAAAAAJE/QzRgkZ-YeUw/s400/tikar3.jpg
Motif 3

Macam-Macam Kerajinan dari Anyaman Pandan

Selain Anyaman tikar, Masih banyak lagi kerajinan anyaman yang di buat dengan memanfa'atkan tanaman pandan. di antara nya Tas, Sendal, Kipas, dan lain-lain.
http://1.bp.blogspot.com/-unP0g-r54oY/T6tJWbD47OI/AAAAAAAAAJw/abG8Wz-UEUw/s400/tas4.JPG
Koleksian Tas, sendal dll.


http://4.bp.blogspot.com/-vMze51iGEnU/T6tKYHv6PlI/AAAAAAAAAJ4/U4Au0S3b0Kg/s200/dompet.jpg
Dompet Anyaman

http://3.bp.blogspot.com/-sQ1Y6nesJts/T6tNHqLgiXI/AAAAAAAAAKg/iN8VHhuDqjI/s200/sendal2.jpg
Sendal Anyaman


http://3.bp.blogspot.com/-GDyHJWcIbWY/T6tOeTIoo1I/AAAAAAAAAKo/fyQUmaVD7Vg/s1600/topi.JPG
Topi Anyaman

http://3.bp.blogspot.com/-oDA8UtTcQSg/T6tO-m7oQ9I/AAAAAAAAAKw/l4tDbSGDjJk/s200/kipas.jpg
Kipas Anyaman


http://3.bp.blogspot.com/-99NSnInB9Sc/T6tPqcQHN1I/AAAAAAAAAK4/r4a9J8FXRLY/s400/tas8.jpg
Tas Anyaman


B.             Daerah – daerah Penghasil Anyaman Pandan

Ø  Di Kabupaten Pelalawan, khususnya Kecamatan Pelalawan, juga terdapat kerajinan anyaman pandan yang telah lama mempopulerkan tikar yang dipergunakan untuk keperluan adat seperti helat adat perkawianan, yang dinamakan dengan”Tikar Belapak” atau disebut dengan “Tikar Belambak”. Tikar yang berukuran sedag mirip denga sejadah, pada bagian pinggir keliling tikar ditambah dengan kerajinan tekat perada dengan motif tersendiri sesuai selera. Tikar ini dulunya hanya dimiliki oleh para bangsawa dilingkugan istana.
Ø  Di Daerah Riau. Usaha diversifikasikan kerajinan anayaman pandan dengan aneka ragam bentuk telah diupayakan di daerah Kabupaten Indragiri Hilir. Melalui instansi terkait khususnya Dekranasda Kabupaten Indragiri Hilir. kerajinan anyaman padan saat ini berkembag pesat. Pada tahun 2006 produk anyaman pandan “Meja Oshin” telah berhasil memperoleh penghargaan ”Kreasi Cipta Karya Nusantara” yang merupakan penghargaan kreasi unik dan alami yang dimiliki oleh daerah, dalam hal ini daerah Riau. Peghargaan tersebut diterima langsung oleh ketua Dekranasda Kabupaten Indra Giri Hilir Hj.Syafni Zuryanti Indra. Sempea Pekan Kerajinan Indonesia 2006 di Jakarta.
Ø  Daerah aceh Anyaman pandan ini banyak ditemui di Kabupaten Pidie, Kabupaten Pidie Jaya dan kabupaten Aceh Utara.




2.      Anyaman Rotan
Anyaman Rotan merupakan seni yang sudah menjadi tradisi turun temurun, dengan menggunakan rotan sebagai bahan baku, dirangkai atau diolah menjadi suatu benda yang menerapkan fungsi pakai dalam kehidupan sehari – hari, sehingga memberi manfaat bagii manusia.

a.     Proses Pembuatan Kerajinan Anyaman Rotan


http://4.bp.blogspot.com/-b1Jr4YH1r-Y/TboivB6MptI/AAAAAAAAAZQ/NMbST-zsdpM/s200/Anyaman+Riau+PON+2012.JPG
http://apikayu.files.wordpress.com/2012/05/slide3.jpg?w=450Proses Pembuatan Kerajinan Anyaman Rotan, untuk pembuatan kursi atau meja diperlukan rotan yang sudah dibersihkan dengan ukuran diameter sekitar 2-3 cm. Rotan dibentuk menurut kerangka kursi atau meja, dengan jalan memanaskan rotan dengan api (setengah dibakar) sampai agak lunak, sehingga dapat dibentuk sesuai dengan keinginan dengan mudah. Jika belum sempurna, rotan dipanaskan lagi dan dibentuk lagi. Demikian seterusnya sampai terbentuk sesuai keinginan. Bahan-bahan kerangka yang satu dengan yang lain dirangkai dengan terlebih dahulu mempergunakan paku atau pasak dan kemudian diikat dengan anyaman menggunakan kulit rotan yang lebih kecil.
http://apikayu.files.wordpress.com/2012/05/slide4.jpg?w=450 
Setelah kerangka selesai dibuat dengan utuh,barulah dianyam kulit rotan yang sudah dihaluskan dengan mengamplas keseluruh permukaan bagian klursi yang diperlukan seperti tempat duduk, sandaran, serta kaki dan tangan kursi. Maka jadilah sebuah kursi yang molek, dan untuk memperoleh keindahan yang maksimal diperoleh dengan pelitur atau bahan pewarna.

jenis rotan yang selalu dipergunakan adalah :
  • Jenis Saga atau Sego; yaitu yang berdiameter kecil sekitar 0,5 cm.
  • Jenis Menau; yaitu rotan yang berukuran besar berdiameter 2-3 cm

http://apikayu.files.wordpress.com/2012/05/zahrotul1.jpg?w=450&h=555http://apikayu.files.wordpress.com/2012/05/ardiantokcl1.jpg?w=450&h=555Produk Hasil Anyaman Rotan
http://apikayu.files.wordpress.com/2012/05/tantrikcl1.jpg?w=450&h=555http://apikayu.files.wordpress.com/2012/05/052412_1114_pelatihanpr10.png?w=503&h=338

3.        Kerajinan Anyaman Serat Kayu
http://3.bp.blogspot.com/_Szl75vM1nRc/R3W64g39j9I/AAAAAAAAAIU/zdsBUh4IkHA/s200/serat+kayu.jpg
Karena bentuk fisik kayu pada dasarnya seperti tabung dan dengan adanya pengaruh garis lingkaran tahun pada penampangnya proses pembelahan log bisa menghasilkan motif serat kayu yang berbeda pula. Selain itu juga akan mempengaruhi arah penyusutan kayu tersebut. Bahan-bahan serat alam lainnya pun  bisa didapatkan dari Salamrejo misalnya kerajinan tangan dari Pohon Gebang (Agel)
Bahwa pada dasarnya ada beberapa metode pembelahan log yang menghasilkan beberapa perbedaan besar motif serat pada permukaan kayu hasil pembelahan yang dipengaruhi juga oleh kualitas log.

A. Serat Radial
Motif permukaan kayu yang lurus lebih banyak dihasilkan pada metode penggergajian Rift Sawn dan Quarter Sawn. Dua metode ini lebih banyak menghasilkan limbah dan memerlukan waktu lebih lama akan tetapi hasil serat kayu yang dihasilkan lebih baik dan bernilai ekonomis lebih tinggi. Biasanya serat kayu ini digunakan untuk pembuatan meja atau pintu dengan permukaan yang lebar.

B. Serat Tangensial
Pembelahan yang melintang garis lingkaran tahun akan menghasilkan serat bermotif (kembang). Motif permukaan kayu seperti ini paling banyak dihasilkan pada metode pembelahan Plain Saw. Ini metode penggergajian kayu yang paling sering dilakukan di kebanyakan sawmill.
Hasil permukaan kayu tersebut di atas adalah sebagai hasil dasar dari hampir semua jenis kayu. Keseluruhan motif permukaan akan juga dipengaruhi oleh kualitas log dan jenis kayu pada khususnya. Untuk jenis kayu yang memiliki banyak mata kayu, serat permukaan kayu akan dihiasi mata kayu, kantong minyak atau garis-garis melintang secara radial.

http://lh5.ggpht.com/_Szl75vM1nRc/R3W7Eg39j-I/AAAAAAAAAIc/63QkxyyUbdc/s800/log%20cutting.jpg
Ada pula jenis kayu yang karena pada masa pertumbuhannya dan lokasi tumbuh memiliki banyak angin sehingga pohon cenderung 'melintir'. Untuk kayu seperti ini anda akan mendapatkan serat bergelombang.
Pada kenyataan proses produksi harus dilakukan pekerjaan ekstra di area pengamplasan. Lain lagi pada perusahaan vinir untuk permukaan plywood (kayu lapis). Untuk mendapatkan serat yang lurus dan homogen, pabrik akan membelah log menggunakan metode quartersawn.




Salah satu contoh serat kayu adalah serat ijuk. Serat ijuk adalah serat alam yang mungkin hanya sebgian orang mengetahui kalau serat ini sangat lah istimewa di banding dengan serat lainya, serat berwarna hitam yang dihasilkan dari pohon aren memiliki banyak keistimewaan yang akan sediksaya uraikan di artiel ini, di antarnya :

1. Tahan lama hingga ratusan bahkan ribuan tahun lebih

2. Tahan terhadap asam dan garam air laut

3. Mencegah penembusan rayap tanah dan menyebabkan kematian yang tinggi, hingga 100%

4. Sebagai perisai radiasi nuklir
Sebelumnya kita tidak pernah menduga kalau serat ijuk merukan salah satu bahan prisai radiasi nuklir,tapi inilah hasil  penelitan yang dilakukan oleh universitas hasanudin.




 

http://1.bp.blogspot.com/-UCOLDzTdVVg/Ts8mgHaiH_I/AAAAAAAAAN8/euo_iZACg_k/s320/d1.pngTALI IJUK








4. 13261826821879990128 Kerajinan Perak

Kerajinan perak adalah suatu seni yang menggunakan perak sebagai bahan utama dengan sedikit campuran tembaga untuk memperkuat hasil kerajinan, merupakan seni yang mengutamakan nilai kegunaan dan sering pula dijadikan sebagai perhiasan yang menarik.
HR01 199x300 Kerajinan Perak Kotagede
Keberadaan pengrajin perak muncul seiring dengan lahirnya Kerajaan Mataram, daerah yang terkenal dalam kerajinan ini adalah Kotagede, Yogyakarta dimana Kotagede merupakan kawasan bekas ibukota Kerajaan Mataram yang didirikan oleh Panembahan Senopati. Berkembangnya kerajinan perak Kotagede tidak lepas pula dari adanya Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) yang masuk ke Yogyakarta sekitar abad ke- 16. Pada saat itu, banyak pedagang VOC yang memesan peralatan rumah tangga dari emas, perak, tembaga dan kuningan ke penduduk sekitar Kotagede.
Sampai saat ini, masyarakat di kawasan Kotagede masih banyak yang berprofesi sebagai pengrajin. Beberapa diantara mereka berprofesi sebagai pengrajin emas, perak, tembaga, kuningan, tanduk dan masih banyak yang lainnya. Seiring berjalannya waktu, kerajinan perak menjadi produk yang paling diminati sehingga banyak pengrajin yang memilih untuk menjadi pengrajin perak dan dalam perkembangannya kerajinan perak menjadi ciri khas daerah Kotagede.
ASW03 300x199 Kerajinan Perak Kotagede

1.      Pembacaan Notasi pada Hasil Kerajinan Perak
Kebanyakan menjual perak jenis 925 artinya angka 925 menunjukkan persentase kandungan perak yang ada di dalamnya. 925 berarti 92,5% perak + 7,5% tembaga, karena kalau dibuat 100% perak murni terlalu lunak. Tembaga sebagai campuran agar material logam perak bisa lebih kuat diproses menjadi perhiasan. Perak memiliki level mulai dari perak murni 999, 925, 850, 835, 825, dan 800. Untuk perak dengan kadar kemurnian 800 akan lebih cepat hitam (teroksidasi) daripada perak dengan tigkat kemurnian 925. Itu sebabnya jarang sekali ditemukan perhiasan perak dengan stempel 800.

AS03 300x199 Kerajinan Perak Kotagede



Bahan Baku Kerajinan Perak
Bahan baku kerajinan perak ada 2 yaitu lembaran perak yang biasa disebut Gilapan dan benang-benang perak yang biasanya disebut Trap atau Filigran. Dalam setiap proses pembuatannya, ternyata tidak sepenuhnya berbahan dasar perak murni melainkan ada pencampuran dengan tembaga. Seratus persen perak dicampur dengan tembaga 7,5%. Sebab kalau perak murni terlalu lembek dan kurang kuat untuk dijadikan barang kerajinan, oleh karenanya dicampur tembaga sebagai pengerasnya.
2.      Produk perak berdasarkan alat yang digunakan untuk membuatnya

Sedikitnya ada tiga jenis tipe produk yang dijual, yaitu :
  • Perak buatan tangan (Handmade)
Kerajinan perak ini murni dibuat dengan tangan , tanpa mengandalkan mesin. Dari proses awal hingga akhir dikerjakan dengan tangan. Kerajinan inilah yang merupakan cikal bakal industri perak di Kotagede Yogyakarta dan bahkan sampai sekarangpun kerajinan perak di Kotagede masih didominasi kerajinan buatan tangan (handmade).
  • Perak buatan mesin (Machinery)
Kerajinan perak dengan sistem produksi mesin juga merupakan sistem produksi massal seperti casting. Hanya saja di sini digunakan mesin sebagai ganti mesin casting.
Produk-produk yang dibuat dengan mesin biasanya adalah kalung dan gelang rantai. Sama halnya dengan mesin casting, mesin pembuat perhiasan ini harganya juga cukup mahal. Di Indonesia kerajinan perak yang dibuat dengan mesin banyak berasal dari Jawa Timur.
  • Perak cetakan (Casting)
Akhir-akhir ini perak cetakan sering dijadikan alternatif produksi kerajinan perak. Terutama untuk permintaan produk dengan kuantitas besar dan waktu yang terbatas.
Sebenarnya sistem pembuatan perak cetak/casting ini ada beberapa tehnik. Dari yang menggunakan peralatan sederhana sampai penggunaan mesin casting sentrifugal yang lumayan mahal harganya. Dan biasanya produk perhiasan yang ada di pasaran dibuat dengan mesin casting sentrifugal.

3.     Proses Pembuatan Perhiasan Perak


1326182795718510082
Desainnya harus detail, kecuali kita bisa mengamatinya. Karena jika tidak detail, sang pengrajin harus membuat sendiri untuk improvisasinya.
Setelah desain ditentukan, proses dilanjutkan dengan memindahkan desain kecetakan dan penempaan lempengan perak atau benang perak ( tergantung desainnya ).
13261829831524649564
1326183022277599081
‘Benang perak’ yang sedang diulung untuk membuat detail desain ini. Satu demi satu, sesuai desain,dilakukan memotongan dengan menggunakan gunting atau pinset jika terlalu kecil.
Setelah itu, baik membuat dari lempengan perak tatu benang perak, selanjutnya disusun sesuai desain, menjadi burung atau kupu dan sebagainya, sebelum mulai di bakar ( sekarang melakukannya dengan solder listrik ).
132618305625999459
1326183081127824337
Setelah disusun sesuai desain, lalu mulai dibakar. Sebelum dibakar, untuk ‘lem’nya adalah ‘bubuk perak’ seperti foto diatas di piring plastic berwarna biru. Tidak lama, hanya sebentar untuk merekatkan ( seperti di lem ).
132618311350217984
Setelah disolder / dibakar dengan api, masing ikatan menjadi kuat sesuai desain. Pengerjaannya satu demi satu dan detail sekali.
13261831401867521640
Ini adalah proses menempa, tergantung dari desainnya. Belum tentu desainnya memakai proses menempa. Biasanya proses menempa untuk hiasan2 dinding yang lebih tebal dan besar, atau peralatan rumah tangga.
13261831751386857456
1326183215990424585
Kemudian, dilanjutkan dengan proses pembersihan dengan menggunakan ‘lerak’, semacam buah seperti ‘kluwek’ yang juga bisa untuk mencuci batik. ‘Lerak’ ini tidak berbau dan berbusa seperti foto diatas ini.

Jika mendesain dengan memakai ‘anyaman’ benang perak, perhiasan perak bakar ini akan lebih memukau, karena sangat detail, dengan anyaman benang2 kecil dan tipis berlapis perak. Dan semakin indah dan detail perhiasan yang dibuat sesuai desainnya, akan semakin berharga pula perhiasan itu dimata banyak orang.
                Perak mulai berkembang dan banyak diminati di berbagai daerah, kami mengambil satu daerah perkembangan perak, yaitu di desa Celuk, Yogyakarta.

Perkembangan Kerajinan Perak di Desa Celuk

 Barang-barang yang dihasilkan pun hampir sama berupa bokoran, sangku, caratan/penastan, maupun danganan keris, pakaian raja dan lain-lain. Karena pada waktu itu berkembang model yang mendukung untuk kerajaan dan bukan merupakan kebutuhan masyarakat. Barang kerajinan perak lebih menonjol daripada barang emas karena bahan emas pada waktu itu sangat sulit diperoleh. Barang–barang yang dihasilkan lebih banyak untuk keluarga kerajaan.
Sebagai wadah terhadap seniman dan pengerajin supaya lebih berkembang maka sekitar tahun 1935 berdirilah perkumpulan kesenian yang diberi nama “PITAMAHA”. Anggotanya terdiri atas para seniman dan pengerajin di seluruh Kabupaten Gianyar antara lain dari Desa Celuk, Desa Batuan, Desa Mas, Desa Peliatan, Desa Ubud bahkan ada pula dari Desa Sibang (Badung) dan dari Klungkung.
Setelah adanya Pitamaha, di Desa Celuk muncul suatu ciri jejawanan dan bun sehingga menjadi style khas Celuk. Style barang yang berkembang tahun 1940-an berupa tatahan yang dipadukan dengan jejawanan dan bun dengan motif naga seperti caratan/cecepan Perkembangan kerajinan perak di Celuk dari tahun 1930-an sampai 1960-an tidak begitu pesat, terutama barang untuk kebutuhan konsumen sangat sedikit dan terbatas untuk orang yang punya saja.
Pada tahun 1950-an disamping untuk keperluan keagamaan, mulai berkembang sedikit perhiasan/aksesoris dengan style-nya yang khas jejawanan dan bun serta tatahan, karena orang sudah banyak bisa mengukir. Pada waktu itu orang-orang di luar Pande sudah mulai mengerjakan barang emas dan perak. Motif yang berkembang pada waktu itu juga tidak banyak mengalami perubahan dari era 1940-an. Barang yang dibuat ukurannya lebih kecil dan ornamennya semakin banyak seperti batil yang dibuat lebih kecil dari sangku.
Pada tahun 1960-an kerajinan perak di  kurang/tidak berkembang dan hanya untuk keperluan lokal. Hal ini karena di Indonesia terjadi berbagai pergolakan seperti gerakan G-30S PKI dan ditutupnya Indonesia untuk luar. Pada waktu itu barang perak dan emas Celuk lebih banyak dibeli orang lokal.
 Style yang berkembang pada tahun 1970-an adalah lebih banyak pada jawan kecil dan bun dengan motif boma, naga serta motif-motif lainnya. Barang aksesoris/perhiasan merupakan barang-barang yang lumbrah atau tergantung daya konsumen, sehingga style-nya berulang-ulang namun dengan motif yang agak berbeda terutama dari segi ornamen yang lebih banyak menggunakan jawan dan bun. Sedangkan barang-barang untuk keperluan keagamaan semakin berkurang pembuatannya bahkan hilang.
Namun pada tahun 1980-an barang kerajinan perak mulai dicampurkan dengan emas, bentuk jawan divariasikan dengan yang lebih besar dan beberapa model mulai lebih sedikit menggunakan bun-bunan. Motif yang berkembang pada periode ini adalah perhiasan motif kelopok/ box seperti cincin kelopok, dan juga berkembang motif yang lebih sederhana. Pada era-era ini banyak menyerap tenaga kerja dari luar daerah sebagai pengerajin.
Pada tahun 1990-an sampai tahun 2000, style Celuk sudah mulai dipengaruhi oleh style luar (modern) sehingga motif barang yang berkembang lebih banyak motif plin, bentuknya polos sedikit jawan bahkan tidak ada. Pada tahun ini lebih pada tuntutan konsumen yang lebih banyak wisatawan mancanegara yang lebih senang dengan style modern. Bahkan sekarang ini sudah digunakan mesin untuk membuat barang perak.


5.     Kerajinan Kulit

 Kerajinan kulit adalah  kerajinan yang menggunakan bahan baku kulit yang sudah dimasak, kulit mentah atau kulit sintesis.
SEJARAH KERAJINAN KULIT

http://4.bp.blogspot.com/-cvlSI89Qhoc/TmtXcKzkGSI/AAAAAAAAAAM/KhAgQQQqnWI/s200/mbah.jpg             Bermula dari keprihatinan seorang pemuda yang melihat banyak pengangguran di Desa Manding, yang mayoritas pekerjaannya adalah petani penggarap dengan lahan pertatanian yang relatif sempit,akhirnya pemuda tersebut yang tak lain adalah PRAPTO SUDARMO bertekad untuk meningkatkan taraf hidup di desanya dan bercita-cita untuk bisa menciptakan lapangan pekerjaan, khususnya bagi para pemuda sebayanya.
           Kemudian beliau bertekad bulat untuk menimba ilmu tepatnya belajar proses pembuatan kerajinan kulit di tempat saudaranya di daerah Rotowijayan (sebelah barat alun-alun Jogyakarta),bertahun-tahun beliau belajar dengan tekun,serius.
           Dengan berbekal pengetahuan yang dimiliki pada tahun 1953, bapak PRAPTO SUDARMO memulai usahanya di kampung halamannya yaitu di desa Manding,Sabdodadi,Bantul. Dengan hanya dibantu beberapa orang karyawan mulai memproduksi kerajinan kulit berupa sepatu,tas,ikat pinggang hingga akhirnya berkembang pesat.
           Pada tahun 1960 usaha kerajinan kulit yang dirintisnya mengalami kemunduran hingga akhirnya ditutup,penyebab kemunduran usaha tersebut dikarenakan keadaan ekonomi dan politik dalam negeri yang kurang stabil,selain dari itu juga dikarenakan munculnya produk-produk tas yang terbuat dari bahan dasar plastik yang harganya jauh lebih rendah,serta kurangnya pengelolaan manajemen yang baik.
         
http://1.bp.blogspot.com/-AqnalX9Ic78/TmtYSJMh2hI/AAAAAAAAAAQ/n2Z8PQDSaz4/s200/02092011%2528004%2529.jpg

Berkat jerih payahnya mengembangkan usaha kerajinan kulit yang dapat menciptakan lapangan kerja di daerah Manding dan sekitarnya ,maka pada tahun 1986 Bapak PRAPTO SUDARMO pernah diundang ke Istana Negara sebagai pengrajin yang berhasil, pada masa kepemimpinan Bapak Presiden SOEHARTO.

Proses Pembuatan
1.    Pembelian Kulit
Kulit yang digunakan untuk membuat kerajinan ini adalah kulit mentah dan kulit split. Kulit mentah adalah kulit yang langsung digunakan untuk proses pembuatan kerajinan kulit tanpa proses kimiawi. Sedangkan kulit split adalah kulit yang sudah melalui proses kimiawi di pabrik ataupun tempat lainnya.

2.    Pengolahan Kulit
Kulit direndam dengan menggunakan air selama satu hari hingga lunak. Kemudian direntangkan  dengan menggunakan tali dan pigura kayu yang kuat. Selanjutnya, kulit tersebut dijemur dibawah terik matahari sampai benar – benar kering. Kulit yang sudah kering segera ditipiskan dengan cara dikerok. Bagian yang dikerok adalah bagian rambut, dan sisa – sisa daging yang masih melekat di bagian dalam.
Kulit dikerok dengan menggunakan pisau, atah pethel sedikit dmi sedikit secara hati – hati. Kulit bagian dalam dikerok terlebih dahulu dan lebih banyak dikurangi agar diperoleh kulit yang berkualitas. Setelah itu, baru dilanjutkanpengerokan kulit bagian luar, yang hanya sedikit karena bila dilakukan pengurangan terlalu banyak maka kulit yang dihasilkan akan menjadi mudah patah bila dilipat.
Bila perlu, pada bagian ini hanya dihilangkan rambut – rambutnya saja dan dibersihkan dengan air. Terdapat beberapa metode yang digunakan untuk mempermudah pengerokan, seperti merendam kulit dengan air mendidih, dan dengan menggunakan air kapur sebelum direntangkan. Torehan pisau pada proses pengerokan hanya dilakukan satu arah dari atas kebawah.
Setelah kulit ditipiskan, sisa – sisa kerokan dibersihkan dengan air dan bagian yang dikerok dihaluskan dengan amplas. Selanjutnya, dijemur pada terik matahari hingga kering secara merata. Setelah kering, kulit dilapisi dengan warna dasar untuk menutupi pori – pori kulit agar permukaannya rata. Setelah itu, mulailah membentuk sketsa gambar kerajinan dipermukaan kulit, lalu ditatah sehingga diperoleh bentuk dasar.
3.    Pembuatan Barang Keajinan
Tahap selanjutnya adalah memperhalus tatahan dasar dan membuat kombinasi yang indah dalam penerawangan cahaya. Lalu mulaolah memadukan bahan pendukung lainnya untuk memperindah dan memperkuat barang kerajinan kulit tersebut. Biasanya cara  emadukannya dengan cara melakukan pengeleman atan penjahitan sehingga benar – benar menjadi barang yang kuat dan tahan lama, tak lupa dilakukan pewarnaan menggunakan pewarna sintatis, yaitu sandy colour, dan menggunakan perekat seperti lem rakol / lem fox. Setelah barang selasai dibuat, sisa – sisa potongan kulit yang tidak terpakai dapat pula dijadikan sebagai bahan rambak/ kerupuk kulit, dan pupuk organik.

Berikut adalah beberapa produk kerajinan kulit Bapak PRAPTO SUDARMO :
http://1.bp.blogspot.com/-bCEiHvpmac4/TmtYgOGazDI/AAAAAAAAAAU/jfm3x4H2Llo/s200/02092011%2528017%2529.jpg   

                   
   -TAS GITAR- 
http://3.bp.blogspot.com/-wt836P0kLbA/TmtZ2-t-FMI/AAAAAAAAAAg/5BnJlW1wu5g/s200/02092011%2528030%2529.jpg       
http://4.bp.blogspot.com/-gYtwrTss38A/TmtY-TSGrgI/AAAAAAAAAAY/nszjjUMpzqQ/s200/02092011%2528016%2529.jpg

-TAS PASPOR DAN                                                           -TAS JUNO MINI-
  TAS GITAR-

http://3.bp.blogspot.com/-yaVl-TZsYKk/Tmtap2-rqbI/AAAAAAAAAAk/jE0Kp7fUFdE/s200/02092011%2528029%2529.jpg

-TAS JUNO MIRING-
6.            Kerajinan Ukir
Kerajinan Ukir adalah  kerajinan yang menggunakan bahan baku kayu yang dikerjakan atau dibentuk menggunakan tatah ukir.
dongyang_wood_carvings7d4458a70ee9924a1e6c.jpg ukiran kayu 2Berbicara tentang seni ukir, pastilah tercetus Jepara sebagai kota yang mendapat predikat “Kota Ukir”. Ukir kayu telah menjadi idiom kota kelahiran Raden Ajeng Kartini ini, dan bahkan belum ada kota lain yang layak disebut sepadan dengan Jepara untuk industri kerajinan meubel ukir. Demikian juga pada saat kerajan Islam pertama di Demak, Jepara telah dijadikan sebagai pelabuhan Utara disamping sebagai pusat perdagangan dan pangkalan armada perang. Dalam masa penyebaran agama Islam oleh para Wali, Jepara juga dijadikan daerah “ pengabdian” Sunan Kalijaga yang mengembangkan berbagai macam seni termasuk seni ukir.
Factor lain yang melatar belakangi perkembangan ukir kayu di Jepara adalah para pendatang dari negeri Cina yang kemudian menetap. Dalam catatan sejarah perkembangan ukir kayu juga tak dapat dilepaskan dari peranan Ratu Kalinyamat . Pada masa pemerintahannya ia memiliki seorang patih yang bernama “Sungging Badarduwung” yang berasal dari Negeri Campa  Patih ini ternyata seorang ahli pahat yang dengan sukarela mengajarkan keterampilannya kepada masyarakat disekitarnya  Satu bukti yang masih dapat dilihat dari seni ukir masa pemerintahan Ratu Kalinyamat ini adalah adanya ornament ukir batu di Masjid Mantingan.
Untuk menunjang perkembangan ukir Jepara yang telah dirintis oleh Raden Ajeng Kartini, pada tahun 1929 timbul gagasan dari beberapa orang pribumi untuk mendirikan sekolah kejuruan. Tepat pada tanggal 1 Juli 1929, sekolah pertukangan dengan jurusan meubel dan ukir dibuka dengan nama “Openbare Ambachtsschool” yang kemudian berkembang menjadi Sekolah Teknik Negeri dan Kemudian menjadi Sekolah Menengah Industri Kerajinan Negeri.
Dengan adanya sekolah kejuruan ini, kerajinan meubul dan ukiran semaluas di masyarakat dan makin banyak pula anak–anak yang masuk sekolah ini agar mendapatkan kecakapan di bidang meubel dan meubel dan ukir.  Di dalam sekolah ini agar diajarkan berbagai macam desain  motif ukir serta ragam hias Indonesia yang pada mulanya belum diketahui oleh masyarakat Jepara . Tokoh-tokoh yang berjasa di dalam pengembangan motif lewat lembaga pendidikan ini adalah Raden Ngabehi Projo Sukemi yang mengembangkan motif majapahit dan Pajajaran serta Raden Ngabehi Wignjopangukir mengembangkan motif Pajajaran dan Bali.
Sejarah seni ukir
Kemampuan masyarakat Jepara di bidang ukir kayu juga diwarnai dengan legenda . Dikisahkan, pada jaman dahulu ada seorang seniman bernama Ki Sungging Adi Luwih yang tinggal di suatu kerajaan. Ketenaran seniman ini didengar oleh sang raja yang kemudian memesan gambar permaisuri. Singkat cerita, KiSungging berhasil menyelesaikan pesanan dengan baik. Namun ketika ia akan menambahkan warna hitam pada rambut, terpeciklah tinta hitam dibagian pangkal paha gambar sang permaisuri sehingga nampak seperti tahi lalat. Gambar ini kemudian diserahkan kepada raja yang sangat kagum terhadap hasil karya Ki Sungging.
Namun raja juga curiga karena ia melihat ada tahi lalat dipangkal paha. Raja menduga Ki Sungging telah melihat permaisuri telanjang. Oleh karena itu raja berniat menghukum Ki Sungging dengan membuat patung di udara dengan naik layang-layang. Pada waktu yang telah ditentukan  ki Sungging naik layang-layang dengan membawa pelengkapan pahat untuk membuat patung permaisuri.
Namun karena angin bertiup sangat kencang, patung setengah jadi itu akhirnya terbawa angin dan jatuh di pulau Bali. Benda ini akhirnya ditemukan oleh masyarakat Bali, sehingga masyarakat setempat sekarang dikenal sebagai ahli membuat patung.
Sedangkan peralatan memahat jatuh di belakang gunung di dekat kota Jepara dan konon dari kawasan inilah ukir Jepara mulai berkembang. Di desa kecil sebelah utara kota Jepara tersebut sampai sekarang memang banyak terdapat pengrajin ukir yang berkualitas tinggi. Namun asal mula adanya ukiran disini apakah memang betul disebabkan karena jatuhnya pahat Prabangkara, belum ada data sejarah yang mendukungnya.
Terlepas dari cerita legenda maupun sejarahnya, seni ukir Jepara kini telah dapat berkembang dan bahkan merupakan salah satu bagian dari “nafas kehidupan dan denyut nadi perekonomian “ masyarakat Jepara.
carv.jpg ukiran kayu
A.              Teknik Dasar Ukiran Kayu
Ukiran kayu adalah hobi yang sudah ada selama beberapa dekade. Beberapa orang melakukannya untuk kesenangan, yang lain membuat ukiran yang rumit atau sederhana, mebel atau tanda-tanda untuk mencari nafkah. Ada banyak cara untuk mengukir kayu, dari raut sederhana untuk memotong perangkat kekuasaan yang kompleks. Teknik yang digunakan untuk mengukir kayu dari berbagai pemotongan dan memahat untuk pembakaran. Berikut adalah beberapa teknik termudah dan paling efektif untuk membantu Anda memulai ukiran kayu dengan segera.
Memilih Kayu
Kayu yang Anda butuhkan untuk ukiran dikategorikan menjadi dua jenis – kayu keras dan kayu lunak. Daun pohon-pohon dengan daun lebar yang kehilangan daun mereka selama musim gugur setiap tahun banyak penyedia kayu, sedangkan kayu lunak tersedia dari pohon cemara yang  kerucut. Sementara kayu seperti oak, jati, sonokeling dan walnut berbagai bentuk pertama, jenis kayu lunak – misalnya, butternut, pinus, basswood, cedar dan kapuk – tampaknya paling populer dengan penggemar ukiran.
Berbagai bentuk ukiran kayu memerlukan alat yang berbeda dan instrumen. Beberapa alat yang paling umum adalah ukiran pisau yang berbeda ukuran, pahat persegi dan miring, gouges, file, dan alat rasps perpisahan.

Teknik ini umumnya digunakan untuk dua-dimensi benda seni untuk dekorasi di dinding dan di sekitar rumah. Ini terdiri dari penghapusan kayu dari sebuah papan datar dari kayu dan Penciptaan seperti objek yang diukir  akan tampak seperti itu adalah tumbuh keluar dari permukaan. Dimulai dengan ide desain, rencana master ukiran bantuan dilakukan di atas kertas dan kemudian dibawa ke panel kayu.
Sederhana, instrumen tangan dioperasikan seperti gouges, palu dan pahat yang diperlukan untuk ukiran. Selama proses tersebut, kayu pecah jauh dari pola, membuat kenaikan desain dari kayu. Tepi desain tidak teratur  kemudian mencukur agar sesuai garis dari pola asli. Mendapatkan digunakan untuk mencengkeram dan bekerja instrumen baik dan membuat alat yang cukup tajam untuk ukiran rapi adalah inti-ukiran relief keterampilan.

Chip Ukiran
Ukiran Chip adalah teknik biasanya digunakan pada potongan lebih besar dari pekerjaan seperti tunggul pohon atau kayu, dan menggunakan kapak dan pahat yang lebih besar. Teknik ini jauh seperti patung, dan ini melibatkan chipping di kayu sampai Anda memunculkan gambar patung. Dalam teknik chip-ukiran, juga dikenal sebagai ukiran sendok, Anda menggunakan pisau untuk menghilangkan serpihan kayu kecil dari panel atau blok. Sebagian besar dilakukan di butternut, pinus atau mahoni, ukiran chip yang melibatkan memanipulasi dua permukaan – wajah dari panel kayu atau blok dan memotong titik berpotongan di bawah permukaan kayu.
Pembakaran kayu adalah teknik terutama digunakan untuk menambah desain untuk proyek kayu yang selesai, tetapi beberapa pemahat benar-benar menggunakan metode pembakaran untuk mengukir proyek-proyek kecil. Pena pembakar kayu membakar kayu, bukan dari mengukir, meninggalkan tepi menghitam di sekitar ukiran akhir.
Ngerik adalah salah satu, cara tertua paling sederhana dan paling santai untuk bekerja dengan kayu. Teknik ini melibatkan tidak lebih dari sepotong kayu dan pisau ukir. Kayu pengrajin yang telah berlatih seni ini untuk kadang-kadang sering dapat duduk dan meraut apa saja dalam waktu setengah jam atau lebih. Ngerik hanya masalah pemotongan bit kayu jauh dari blok sampai desain Anda setelah terbentuk. Dalam banyak kasus, pemahat kayu terampil melakukannya dengan pisau kecil, dan merinci dengan pisau yang sama.
Sebuah jenis tiga-dimensi dari ukiran kayu yang digunakan terutama oleh seniman dan pemahat berpengalaman, teknik putaran menimbulkan berbagai pilihan objek dan patung-patung. Anda awalnya membuat tanah liat atau model lilin, maka kerangka kawat untuk pelengkap eksternal objek. Akhirnya, sebuah balok kayu adalah kunci untuk ini untuk mengukir potongan seni yang dihasilkan. Teknik ini membutuhkan hampir semua kayu-ukiran alat dan instrumen.
Bantuan Ukiran
Pertolongan ukir adalah seni chipping dan memotong pada sepotong kayu datar untuk membawa muncul ukiran sehingga tampak tiga dimensi. Ukiran Relief ini biasanya dilakukan dengan sebuah alat pahat dan palu, pisau ukir meskipun sering digunakan untuk detail pekerjaan sampai selesai. Pada ukiran relief, pengrajin pahat kayu dari potongan datar sampai gambar, dia mulai mengambil bentuk dalam kayu, sehingga muncul.

Gambar ukiran kayu adalah tenaga kerja cinta. Biaya bahan baku dan ketersediaan kayu yang diinginkan dalam potongan cukup lebar terlalu tinggi kecuali Anda memiliki akses ke sebuah woodlot. Hal ini dimungkinkan untuk memotong biaya sambil membuat ukiran kayu kualitas gambar atas, namun.Cara membuatnya:

1.         Putuskan apa ukuran gambar yang ingin Anda buat. Pembelian cukup 1-by-6-inci di kayu papan yang Anda inginkan untuk tukang jagal memblokir mereka bersama-sama ke kanvas Anda. Siapkan papan untuk bergabung dengan pengamplasan dan planing mereka jika diperlukan. Pastikan semua tepi yang halus dan bersih dari kotoran dan puing-puing. Pastikan gandum berjalan di arah yang Anda inginkan dan semua sendi akan datang bersama-sama secara merata.

2.         Terapkan perekat ke tepi papan sebelum menjepit mereka bersama-sama di catok meja Anda. Menghapus setiap kelebihan dan biarkan kering semalam. Papan Pasir lagi ketika semua telah bergabung ke ukuran yang Anda butuhkan.

3 .        Gambarlah desain Anda ditujukan pada kayu Anda bersama  menggunakan pensil berujung tajam.

4.         Laminasi yang lebih kecil potongan kayu kontras di tempat di mana frame Anda dan setiap rincian kontras akan digunakan. Sebagai contoh, jika harus ada sebuah gunung kenari pada latar belakang ek, potong profil pada gulir atau band melihat. Laminasi ke gambar menggunakan lem tukang kayu dan mengusap kelebihan. Gunakan bobot untuk menekan potongan sampai kering.

5.         Mulailah ukiran garis kasar gambar Anda dengan pasokan berbagai karbida burring bit dan kecepatan tinggi, tangan memegang alat putar. Hapus hanya bahan sedikit demi sedikit, berhenti sering untuk memeriksa pekerjaan Anda. Lebih baik untuk menghapus terlalu sedikit daripada terlalu banyak, karena Anda selalu dapat menghapus lebih.

6.         Gunakan drum pengamplasan baik dan flappers pada alat putar Anda untuk kelancaran bertebarnya setiap bintik-bintik kasar. Finish dan segel dengan minyak, pernis atau lilin.




Tugas i
Analisis Materi Pembahasan
a.     Kerajinan Batik

4.   Batik Yogyakarta dan Transang

Ä Pembuatannya (menyangkut Bahan)

Batik merupakan hasil kerajinan khas Indonesia terutama terkenal untuk daerah daerah di pulau jawa, yang sudah menjdi warisan budaya secara turun – temurun dari generasi satu ke generasi selanjutnya. Pengrajin batik semakin membudaya dan semakin kreatif dalam mengembankan motif dan corak  pada batik. Ini membuat batik menjadi semakin beraneka ragam bentuk dan jenisnya, tiap – tiap daerah penghasil batik di Indonesia memiliki perbedaan tersendiri, baik dari proses pengerjaannya, bahannnya, serta motif dan aturan penggunaan kain serta pemakaian batik tersebut.

 Dari segi pembuatan, batik memang suatu karya seni yang sulit dibuat, bagi orang – orang awam, karena memerlukan keterampilan, ketelitian, konsentrasi dan ketelatenan khusus.
Batik dibuat dengan mengunakan canting, perlahan - lahan malam ditorehkan pada kainnya, sesuai dengan pola yang ditentukan. Tidak sembarang menitikkan malam pada kain, jika malam terlalu kental ataupun encer, pola yang sudah digambar akan rusak dikarenakan malam yang meleber tidak sesuai motif, dan ini akan merusak batik menjadi tidak layak untuk dipasarkan. Lalu dilakukan pewarnaan hingga menjadi kain yang sempurna dan siap pakai.
Karena menggunakan canting dan malam inilah yang kami anggap sebagai kelebihan batik dibandingkan dengan kain - kain lainnya. Karena kebanyakan kain menggunakan proses sablon, atau cetakan lainnya. Walaupun ada pula batik yang dikenal sebagai batik cetak, tapi yang paling menonjol dari batik dan sudah dikenal masyarakat luas adalah atik yang diproses mengguakan canting dan malam, atau biasa kita ebut dengan batik tulis.
Dalam materi yang kami bahas tentang Batik yogyakarta dan Batik Transang, tidak memiliki perbedaan yang spesifik dari segi pembuatannya, melainkan memiliki perbedaan dari motif dan warnanya. Karena sama  sama dibuat dengan menggunakan canting dan malam sebagai bahnnya, tetapi dari segi aturan batik Yogyakarta lebih terikat pada lingkungan resmi keraton, dibandingkan batik Transang yang cenderung bebas.

Ä Keindahannya / Keunikannya

Karena dibuat langsung oleh tangan manusia, batik memiliki kelebihan dari bentuk motif yang lebih hidup, tahan lama dan lebih terkesan sederhana dan menarik. Kembali lagi kepada proses pembuatannya, batik dikatakan unik karena dibuat menggunakan canting.
Perbedaannya terletak pada warnanya. Batik Jogja berwarna putih dengan corak hitam, sedangkan batik transang berwarna kuning dengan corak tanpa putih, dengan erat terhadapwarna cokelat tua.
Aturan penggunaan batik jogja sangat erat terhadap tradisi. Beberapa contoh motif batik klasik Yogyakarta antara lain: Parang, Geometri, Banji, Tumbuhan Menjalar, Motif tumbuhan Air, Bunga, Satwa dalam kehidupan dan lain-lain.
Bisa dilihat bahwa pada zaman Belanda, motif-motif batik  Transang dipengaruhi nuansa Eropa. Batik di Indonesia memiliki keragaman jenis, pola, motif, dan corak sesuai dengan unsur-unsur daerah yang membentuknya, Salah satu contohnya batik Transang yang dikenal berwarna cokelat gelap. Dalam perkembangannya corak batik dapat kita lihat mempunyai 2 bentuk yang berbeda, yaitu golongan ragam hias geometris dan non geometris.
Keunikan yang kami tangkap dari dua jenis batik ini adalah dari segi warnanya yang berbeda pada masing – masing jenisnya, ini membuat kita lebih mudah mengingat masing –masing jenis batiknya. Perbedaan warna ini membuat batik menjadi berbeda dengan jenis batik lainnya.
b.    Kerajinan Ukir
F Proses Pembuatannya (bahan)
Dalam proses pembuatannya, seni ukir ini menggunakan bahan berupa kayu yang bertekstur  keras ataupun lunak yang awet, tahan lama untuk dipakai, dan nyaman. Sehingga dalam seni kerajinan ini banyak diminati oleh konsumen diberbagai kawasan Indonesia. Namun yang paling dikenal dan diminati oleh banyak orang adalah ukiran Kayu jati dan mahoni.
 Membuat ukiran kayu menggunakan pahat dengan menorehkannya pada kayu yang akan diukir, dalam mengukir kita harus teliti dan terampil mengunakan alat ataupun bahan – bahannya. Dalam mengukirnya, pengrajin harus benar – benar kreatif dalam mengembangkan ide atau gagasan tentang bentuk ukiran apa yang dibuatnya.

F Keindahan / Keunikannya
Keunikannya adalah terdapat ada bentuk akhir yang dihasilkan oleh pengrajin ukiran ini yang sudah jadi dan siap pakai. Kami mengambil kesimpulan tentang keunikan kerajinan ini adalah pada tampilan fisiknya, terdapat pada bentuk ukirannya yang indah, seperti ukiran burung garuda, ataupun motif bunga, hingga ukiran wajah manusia.
 Selain itu keunikan lainnya terlihat dari produk yang dihasilkan lebih terlihat elegan dan mewah, dibandingkan produk polos tanpa ukiran dan juga kerajinan ukir ini menampilkan desain yang sederhana, tetapi benar – benar berkualitas .





c.     Kerajinan Kulit
F Proses Pembuatannya (bahan)
Pembuatan seni kerajinan kulit ini harus memerlukan ketekunan serta kesabaran dalam mengolah bahannya, kebanyakan berasal dari bahan baku kulit hewan seperti ular,buaya,dll. Maka seseorang dalam mengolah nya harus mempunyai kreatifitas yang tinggi.
Karena berasal dari makhluk hidup maka dari proses pembuatanya memerlukan tenaga extra dalam mengolahnya menjadi sebuah benda kerajinan, selain itu bahan baku sulit di dapat di lingkungan masyarakat, membuat harga dari produk ini melambung tinggi. Kerajinan kulit dibuat dengan cara mencuci terlebih dahulu kulit yang dijadikan bahan utama lalu menjemur kulit yang sudah dilepaskan dari lemak – lemak yang menempel, setelah itu dikeringkan dibawah terik matahari hingga benar – benar kering secara merata, dan hilang bau amisnya. Setelah itu barulah dibentuk menjadi sebuah kerajinan.
  Kerajinan kulit ini banyak di minati karena bahannya dapat digunakan dalam kurun waktu yang cukup lama, serta aman dan nyaman digunakan.
Penggunaan bahanbaku kulit dalam kerajinan ini juga lebih diminati karena terkenal dengan teksturnya yang halus, lembut dan tahan lama dengan jangka waktu pemakaian yang lama, selain itu juga bahan kulit ini sangat kuat dan tidak mudah patah ataupun rapuh jika dipakai.

F Keindahan / Keunikannya

Keunikannya adalah bahan kulit ini menghasilkan warna natural yang elegan dan mengkilat apabila sudah dijadikan suatu benda kerajinan. Contohnya saja, kita lihat sepatu, tas ataupun dompet yang berbahan dasar kulit, pastilah terlihat mengkilat dan indah. Motif dari bahan baku itu sendiri memilik ciri khas yang berbeda dan terkesan modis, karena terbentuk secara alamiah dan bukan terbentuk dari campur tangan manusia.
 Selain itu hasil kerajinan yang menggunakan kulit ini pun terkesan lebih nyaman saat dipakai, terlihat lebih elegan daripada menggunakan bahan baku lainnya, kerajinan kulit ini juga tidak menimbulkan iritasi bagi kulit jika kita menggunakan produknya (sepatu, misalnya), bahan kulit yang digunakan semakin lama akan semakin elastis dikarenakan menerima asupan sinar maahari dan udara panas, inilah yang membuat kita tidak akan iritasi menggunakannya.

d.        Kerajinan anyaman
1.       Anyaman Pandan Duri
F Proses pembuatan(bahan)
Dalam pembuatannya memerlukan ketelitian dan kesabaran dalam menyatukan pandan-pandan menjadi suatu anyaman, bahan baku pandan berduri mudah di cari sehingga menjadi suatu industri rumahan. Sehingga dalam proses pengerjaannya harus benar – benar terampil agar dapat menghasilkan benda kerajinan yang sempurna, karena jika terjadi kesalahan maka anyaman akan menjadi longgar dan tidak rapat, hingga tidak dapat digunakan.
Bahan anyaman ini menggunaan pandan, berasal dari tumbuh – tumbuhan, maka dari itu anyaman ini lebih praktis dan lebih ringan dibandingkan produk berbahan dasar plastik atau karet dan serat polyetelene yang biasa digunakan dalam pembuatan ambal.
Hasil kerajinan ini bisa didapatkan dengan harga yang terjangkau, dan juga nyaman digunakan, karena lebih dingin jika dipakai (tikar) dan tidak mudah menyerap hawa panas, dan tentu saja ramah lingkungan karena terbuat dari bahan organik yang mudah diolah tanah. Bahan ini juga dapat dijadikan berbagai macam roduk kerajinan seperti topi, tas, dan juga tikar.


F Keunikan atau keindahannya
Dalam anyaman pandan keunikannya produk nya tahan lama. Bahan baku pandan duri ini mudah di dapat serta mudah diolah. Motif anyaman pada daun pandan lebih bervariasi dan tidak terkesan itu itu saja, motifnya juga terkesan sederhana karena warnanya yang alami yaitu cokelat, walaupun dalam seni anyaman ini produsen sering menggunakan pewarna sintetis, tetapi dalam produknya produsen tetap mempertahankan warna cokelat tersebut, dengan tidak mewarnai produk kerajinan secara keseluruhan.
Konsumen pun tidak menjadi bosan dengan produknya. Berbagai macam motif dapat dihasilkan dengan bahan baku ini, seperti yang kami tampilkan dalam materi pembahasan di atas.
Bentuk lainnya, seperti tas dan topi, tampil lebih alami, dan terkesan tidak monoton dan tidak terkesan [ada suatu barang kerajinan saja, yang sudah menjadi icon kerajinan ini, yaitu tikar pandan.

2.   Anyaman Rotan

F Proses pembuatan (bahan)
Proses anyaman rotan  memakan waktu yang cukup lama dalam pembuatanya karena bahan baku nya cukup keras dan tidak mudah dibentuk, sehingga perlu dilakukan proses pemanasan rotan agar sedikit lunak dan menjadi mdah untuk dianyam.
Bahan baku ini semakin hari semakin sulit di cari akibat eksploitasi rotan secaraberlebihan untuk keperluan industri, namun untuk sebagian wilayah di Indonesia ang masih memiliki ketersediaan rotan kerajinan ini masih tetap dijalankan bahkan hingga mancanegara.
Rotan memang dikenal dengan keawetannya, dan keistimewaannya yang tidak mudah patah atau putus jika sudah dibelah menjadi bagian yang tipis. Memang boleh dikatakan, hasil hasil kerajinan yang dibuat secara manual oleh manusia dikenal dengan keawetan dan ketahannnya.
Rotan yang telah mengalami proses pemanasan menjadi lunak dan mudah dibentuk, menjadi kursi, meja, rak sepatu, kipas dan bahkan menjadi mainan anak – anak. Rotan merupakan bahan yang tidak mudah rapuh atu lapuk dimakan masa, bahkan hingga berpuluh – puluh tahun lamanya, atau bahkan lebih untuk sebuah rotan utuh yang tidak melalui proses pembelahan.
 Dari berbagai bentuk kerajinan inilah, kami mengambil kesimpulan bahwa rotan merupakan bahan yang fleksibel karena dapat digunakan untuk membuat berbagai macam benda, dan mempunyai manfaat yang cukup besar dalam kehidupan manusia.

F Keunikannya
Keunikannya anyaman rotan adalah seperti yang sudah kami jelaskan diatas, terletak pada kegunaannya yang dapat dihasilkan menjadi produk kerajinan yang beraneka ragam dan juga karena rotan adalah hasil alam yang tahan lama untuk dipakai.
 Dalam produk kerajinan yang sudah siap pakai rotan juga dikatakan unuk karena walaupun kita menganggapnya berat, ternyata rotan cukup ringan dibandingkan dengan kayu atau boleh dikatakan tidak sesuai dengan perkiraan kita. Rotan juga unik, karena tanpa menggunakan proses pewarnaan sudah terlihat menarik.
Dalam kerajinan rotan, kebanyakan atau bahkan seluruh pengrajin selalu mengunakan politur untuk mewarnainya, pewarnaan dengan menggunakan politur inilah yang juga membuat rotan menjadi lebih cantik dan indah, apalagi dengan ditambahkannya vernis yang berfungsi untuk membuat rotan semakin mengkilat dan menarik.


3.  Anyaman serat kayu
F Proses pembuatan (bahan)
Proses pembuatan ayaman serat kayu dapat dikatakan rumit dikarenakan serat kayu bukan seperti kerajinan ukir yang langsung menggunakan kayunya, tetapi dalam kerajinan ini kayu harus dibelah terlebih dahulu untuk diambil serat didalamnya sehingga pembuatan serat kayu membutuhkan waktu yang lama dan kesabaran serta ketelitian.
Untuk proses penganyamannya serat kayu harus memalui proses pemelintiran hal ini dilakukan agar serat kayu mudah untuk di anyam menjadi benda kerajinan. Bahan serat kayu ini dapat bertahan lama, menurut referensi yang kami dapat, serat kayu dapat bertahan hingga ratusan tahun lamanya.

F Keunikan / keindahannya
Ayaman serat kayu yang sederhana ini ternyata dapat mengindari kita dari pancaran sinar radiasi. Serat kayu juga termasuk hasil kerajinan yang ramah lingkungan, apalagi di era global warming seperti sekarang ini, selain itu serat kayu juga lebih ringan dan mudah di dapat. Serat kayu unik, karena membuat barang kerajinan ini dengan cara menyatukan banyak serat kayu, serat kayu yang sudah seperti benang itu dijadikan sebuah barang, itu merupakan suatu keunikan menurut kami, karena berbada sekali dengan pandan duri ataupun rotan dan bambu yang berukuran besar.






e.   Kerajinan Perak

F Proses Pembuatannya (Bahan)
Menyangkut proses pembuatannya, tentu saja rumit dan sulit. Selain itu pembuatannya juga boleh dikatakan berbahaya, karena menggunakan listrik dan langsung bersangkutan dengan api. Maka dari itu dalam pembuatannya kita tidak boleh ceroboh, dan memerlukan konsentrasi dan ketelitian penuh untuk dapat menghasilkan barang kerajinan perak ini.
Bahan perak tentu saja tahan lama jika dipakai, perak juga merupakan bahan yang relatif kuat. Bahan pembuatan kerajinan perak ini bukanlah     100 % menggunakan perak, melainkan sedikit menggunakan campuran tembaga agar menambah kerekatan dan menjaga perak agar tahan lama. Bahan perak juga sangat fleksibel karena dapat digunakan untuk membuat berbagai macam barang kerjinan.

F Keunikannya

Keunikan dari kerajinan ini terletak pada hasil akhir produk yang dihasilkan. Berbagai macam bentuk, model, warna, dan kegunaan membuat kerajinan ini semakin unik. Model – model yang dihasilkan sangat indah dan cantik dilihat dan menambah gaya penampilan kita saat kita mengenakannya seperti perhiasan. Beragam barang dapat dihasilkan dari kerajinan ini, mulai dari gantungan kunci, souvenir, gelang, cincin, dan juga kalung.
 Kerajinan perak ini meghasilkan barang dengan menggunakan pola ukiran ataupun motif dan corak yang detail, sehingga menampilkan kesan mewah yang unik.


SebelumnyaTugas II

A.                 Kerajinan Di Daerah Juwana
         Juwana adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia.
               Kota Juwana merupakan kota di pesisir utara pulau Jawa yang terletak di jalur pantura yang menghubungkan kota Pati dan kota Rembang.
                 Kota Juwana merupakan kota terbesar kedua di Kabupaten Pati setelah Pati. Di kota ini terkenal dengan industri kerajinan kuningan, kerajinan Batik Tulis dan pembudidayaan bandeng. Tapi yang paling terkenal dari daerah Juwana ini adalah kerajinan Kuningan yang sudah menjadi mata pencaharian daerah ini. Kerajinan Kuningan seperti nepel kuningan, baut kuningan dan lain sebagainya.
https://lh3.googleusercontent.com/-Xy37mithepU/T4WmNCCNUnI/AAAAAAAAAAM/wG1sHMXkifU/s208/becak.jpghttps://lh6.googleusercontent.com/-3D6Wg0H3Gq0/T4WmiQWzBCI/AAAAAAAAAA0/NsbtDvj5m9A/s212/kpl+accu.jpg




https://lh3.googleusercontent.com/-ExEiK7iVVdA/T4WmcDtVOjI/AAAAAAAAAAo/Ne04Cuu4SM4/s244/klaim+aki.jpg


https://lh4.googleusercontent.com/-fBGXACd1_ts/T4WmUvtAUPI/AAAAAAAAAAc/JtL5IdSfN9s/s229/cil.jpg
B. Kerajinan Di Daerah Purwakarta
http://2.bp.blogspot.com/_T-19SfR6jFI/TBdnGjU2V2I/AAAAAAAAABg/-GiyzVE3Odc/s400/00-103.png

Purwakarta terkenal dengan sentra kerajinan batiknya. Batik khas Purwakarta memiliki motif tersendiri tidak seperti daerah lainnya. Batik Purwakarta dikenal dengan sebutan Batik Kahuripan. Dimana dalam motif batik tersebut sangat memiliki makna yang sangat besar dalam roda pembangunan Kabupaten Purwakarta yang berkarakter. Ketetapan Batik Purwakarta yang memiliki tujuh makna, tertuang dalam Peraturan Bupati (Perbup) No 33 tahun 2009 yang ditandatangani oleh Bupati H Dedi Mulyadi pada tanggal 22 Juli 2009. Bahkan ke depannya, batik Purwakarta juga akan dipatenkan ke Departemen Hukum dan HAM Republik Indonesia.

Tujuh makna yang terkandung dalam Batik Kahuripan
MAKNA yang tersirat dalam motif batik Purwakarta, yaitu berwarna dasar hitam dengan motif warna kuning emas. Bergambar dua pilar atau yang dikenal di tataran Sunda dengan sebutan Gerbang Indung Rahayu yang melambangkan Dua Kalimah Syahadat yang bermakna Hakekat dan Syariat.

Makna yang ketiga, dalam motif batik Purwakarta, yaitu alap yang tinggi atau disebut Suhunan Julang Ngapak yang melambangkan perlindungan dan mengayomi seluruh warga Kabupaten Purwakarta. Makna keempat, yaitu Uga lekukan yang memiliki makna Iman, Islam dan Ikhsan.

Makna yang kelima, dalam motif batik Purwakarta yaitu Kujang, merupakan kepintaran (wibawa) yang juga merupakan senjata dan simbol di tataran Pasundan. Sedangkan makna keenam, yaitu motif bunga Melati, melambangkan kesucian dan keharuman dan makna ketujuh, dasar hitam dengan garis yang melewati dua pilar di bawah melambangkan jalan yang mulus, air mengalir, dan subur makmur.

Tujuh makna yang ada dalam batik Purwakarta tersebut, semuanya menggambarkan makna Kesun-daan dengan nilai-nilai luhur dan langkah operasional yang dirangkum dalam visi dan misi Purwakarta serta sembilan langkah dalam membangun negeri yang sejahtera menuju Digjaya Purwakarta.
BATIK khas Kabupaten Purwakarta, awalnya muncul bukan dari para pembatik atau sebuah industri. Namun bermula dari adanya lomba mencari ciri khas batik untuk pegawai negeri (PNS) di Purwakarta yang diikuti oleh semua organisasi perangkat daerah (OPD)-yang ada di Kota Simping Ini.
Dari batik-batik yang diperlombakan tersebut. Dinas Perikanan dan Peternakan mencoba menciptakan motif batik yang diselaraskan dengan "Purwakarta Berkarakter" yang sekarang dikenal dengan sebutan Batik Kahuripan yang waktu itu keluar sebagai pemenang dalam lomba batik tingkat kabupaten.
Batik Kahuripan yang memiliki tujuh makna filosofi tersebut, kemudian ditetapkan sebagai batik khas Purwakarta melalui Peraturan Bupati. "Sekarang ini memang masih belum semua PNS di Purwakarta memiliki Batik Kahuripan sebab keterbatasan dalam produksinya.






f.         Kerajinan Di Daerah Tasikmalaya

ANYAMAN RAJAPOLAH


http://4.bp.blogspot.com/_xNZfBEYNwAk/TCXldm6ejVI/AAAAAAAAABY/nuV8KWVZKow/s320/Anyaman+Rajapolah.JPG
Kegiatan anyam-anyaman di wilayah Kecamatan Rajapolah, Tasikmalaya banyak dilakukan oleh penduduk hampir di semua kampung yang ada di kecamatan Rajapolah. Misalnya saja di Kampung Pasir Huni, banyak pengrajin anyam-anyaman. Sehingga di kampung itu, banyak ditemukan hamparan tanaman menong.
Banyaknya penduduk Rajapolah yang menggeluti kerajinan anyam-anyaman, karena di sekitar tempat tinggalnyabanyak ditemukan tanaman bambu dan lahan pesawahan di sepanjang lereng perbukitan sangat cocok ditanami menong. Bahkan terdapat pula budidaya tanaman eceng gondok
http://ragamhandicraftrajapolah.files.wordpress.com/2012/03/cropped-01012008027.jpg
Aneka Anyaman Tasikmalaya
Tasikmalaya telah lama dikenal sebagai daerah penghasil barang-barang kerajinan tradisional. Salah satu produk khas yang menjadi andalan perajin Tasikmalaya adalah anyaman Tasikmalaya, baik dari bambu, mendong, eceng gondok, hingga lidi. Dari bahan-bahan sederhana tersebut bisa dibuat barang-barang cantik, seperti sandal, tas wanita, keranjang, pajangan, dan lain-lain.

1. Anyaman Bambu
Bahan baku bambu yang kuat tetapi fleksibel sangat tepat jika dianyam. Selain itu, harganya pun murah, sehingga benda kerajinan bambu tidak mahal seperti rotan.
Kegiatan menganyam bambu telah berkembang di beberapa daerah di Tasikmalaya, khususnya Rajapolah, sejak puluhan tahun lalu. Awalnya, masyarakat menganyam bambu untuk membuat peralatan dapur dan rumah tangga. Kini, produk anyaman bambu semakin bervariasi dan lebih banyak ditujukan untuk cinderamata.
Produk anyaman bambu halus yang diminati pembeli adalah sandal, tas wanita, beragam bentuk keranjang, kotak seserahan untuk lamaran, topi, wadah kosmetik, kursi, rak, hiasan dinding bertuliskan kaligrafi, dan sebagainya. Kipas bambu juga banyak dicari untuk dijadikan souvenir pesta pernikahan. Terdapat pula benda-benda anyaman yang menggabungkan bahan bambu dengan daun pandan.
Beberapa perajin anyaman di Rajapolah bahkan telah aktif di pasar ekspor. Mereka melayani pemesanan dari pembeli di negara-negara Timur Tengah, Korea, Jepang, Singapura, Malaysia, negara-negara Eropa, dan Amerika. Para pengusaha anyaman juga kerap menerima tamu-tamu asing dari luar negeri yang ingin meneliti produk yang mereka hasilkan.

2. Anyaman Mendong
Menurut kisah yang beredar di masyarakat Kecamatan Purbaratu, Tasikmalaya, tanaman mendong pertama kali dibawa ke Tasikmalaya oleh saudagar-saudagar kuda setempat dari Pulau Sumbawa. Memang, daerah Purbaratu sempat menjadi pusat kendaraan andong yang ditarik oleh kuda, sehingga para saudagar kuda sering bepergian ke Pulau Sumbawa untuk membeli kuda.
Para saudagar tersebut tertarik dengan topi-topi anyaman yang dipakai para peternak kuda di Sumbawa. Begitu mengetahui bahwa bahan baku topi-topi tersebut adalah mendong, mereka memutuskan membawa benih mendong untuk ditanam di Tasikmalaya.
Nama mendong muncul begitu saja karena benih-benih tersebut mereka bawa dalam gendongan selama perjalanan dari Sumbawa ke Tasikmalaya. Sesampainya di Purbaratu, bibit mendong ditanam. Setelah dipanen, tanaman mendong diserahkan kepada ahli tenun yang mengubahnya menjadi tikar. Bentuk tikar yang dibuat pada masa itu masih sederhana dan polos. Begitulah asal mula kerajinan anyaman mendong ditemukan.
Dalam perkembangannya, wujud tikar mendong mengalami banyak perbaikan, mulai dari penambahan motif hingga warna. Rumput-rumput mendong diwarnai dengan teknik celup sebelum dijalin menjadi anyaman. Rancangannya pun semakin bervariasi, kini tikar-tikar mendong tersedia dalam bentuk yang bisa dilipat dan dijinjing sehingga praktis bila dibawa bepergian.
Perajin mendong Purbaratu pun berkolaborasi dengan penenun dari Majalaya, Bandung dan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya untuk menghasilkan anyaman-anyaman bermotif songket.
Kreativitas perajin mendong terus bergerak menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar. Mereka membuat produk-produk anyaman lain seperti tas-tas cantik, dandal, keranjang, kotak serbaguna, dan sebagainya. Alhasil, semakin banyak peminat kerajinan yang melirik anyaman mendong, termasuk konsumen luar negeri. Aneka produk mendong kini telah diekspor ke negara-negara Eropa, Amerika, Inggris, Jepang, dan banyak lagi.


http://ragamhandicraftrajapolah.files.wordpress.com/2012/03/foto00692.jpg?w=300&h=225
Contoh Hasil Kerajinan Tasikmalaya


tas-tas etnik tasikmalayacraft.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar